Perhatikan Hal Berikut Jika Ingin Buka Kembali Bisnis di New Normal

Buka Kembali Bisnis di New Normal

Buka Kembali Bisnis di New Normal – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menjalankan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dalam Masa Transisi ini beberapa sektor mulai dibuka kembali dengan panduan new normal.

Baca juga : New Normal, AIA Financial Tawarkan Produk Asuransi Digital

New normal menjadi era di mana kita mempersiapkan dan menjalani normal yang lebih baik di tengah krisis Corona. Berdasarkan rekomendasi berikut hal yang harus diperhatikan ketika membuka kembali bisnis di new normal:

Membuat Peta Perencanaan

Perlu dicatat dari awal, dalam daftar poker deposit 10000 kondisi normal yang baru nanti, keadaan sudah tidak seperti normal yang dahulu. Saat ini, rencana dan target bisnis 2020 bisa jadi telah berubah drastis, tetapi untuk mempertahankannya, bisnis tetap harus berjalan di tengah situasi yang tidak pasti,

Maka dari itu, pelaku bisnis perlu menyiapkan perencanaan yang detail untuk membuka kembali bisnisnya.

Kita dapat membuat pemetaan strategi dan target bisnis setelah new normal diberlakukan. Pemetaan ini nantinya akan memandu kita dalam hal produksi, pemasaran, penjualan, menentukan waktu pemulihan, dan melihat kembali investasi dan prospek bisnis ke depan.

Bagaimana cara membuat peta ini?

Simpelnya, terutama untuk bisnis UMKM, peta kita buat seperti timeline. Dalam 1 tahun ada 4 kuartal. Saat ini, kita berada di pertengahan kuartal II tahun 2020. Masih ada kuartal III dan IV ke depannya.

Rencanakanlah target per kuartal! Lalu, buatlah strategi per bulan agar mencapai target per kuartal tersebut. Dengan begini, kita dapat melihat secara keseluruhan bagaimana bisnis akan berjalan setidaknya sampai 2020 ini.

Jaga Kualitas Produk

Yang tidak boleh kelewatan adalah meyakinkan pelanggan tentang keamanan dan kualitas produk atau jasa kita. Caranya, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan pemerintah dan tidak menutup kemungkinan untuk menambah disiplin-disiplin tertentu yang dapat lebih meyakinkan pelanggan.

Contoh-contohnya antara lain: pengukuran suhu saat pelanggan memasuki toko, menyediakan hand sanitizer, menyiapkan layanan pembayaran tanpa bertransaksi langsung, dan sebagainya.

Pelaku bisnis juga dapat memberi tahu pelanggan perihal langkah-langkah di balik layar yang diambil perusahaan untuk menjamin keamanan produk atau jasanya.

Jaga Kesehatan dan Keselamatan Karyawan

Karyawan merupakan aset perusahaan. Maka dari itu, pelaku bisnis juga perlu memperhatikan kesehatan dan keselamatan karyawan. Banyak dari karyawan yang ingin kembali bekerja di new normal namun masih khawatir dengan keselamatan mereka. Perusahaan perlu menemukan cara yang menjamin hal tersebut sehingga memotivasi mereka dalam bekerja kembali.

Tidak hanya kepada customer, perusahaan juga harus menekankan kepedulian terhadap kesejahteraan para pekerja. Beberapa caranya antara lain: meningkatkan pengujian kesehatan karyawan, menerapkan pekerjaan jarak jauh untuk beberapa karyawan, dan juga mendesain ulang ruang kerja yang memperhatikan jarak sosial.

Poin ini juga berkesinambungan dengan hal penting lain yang disebutkan sebelumnya, menjaga kualitas produk atau jasa. Terutama untuk bisnismu yang berhubungan langsung dengan customer. Tentunya, kebersihan dan kesehatan karyawan menjadi cerminan yang meyakinkan customer untuk membeli produk atau jasa kita.

Bangkitkan Kembali Permintaan Customer

Menurut data yang dipaparkan McKinsey, yang terjadi di pasar selama pandemi adalah angka permintaan turun lebih signifikan daripada penawaran yang turun akibat gangguan rantai suplai. Dengan mengetahui hal tersebut, pelaku bisnis diharapkan dapat menjalin hubungan kembali dengan customer yang dapat memicu permintaan.

Hal ini menjadi bagian dalam strategi pemasaran ketika membuka kembali bisnis di new normal. Yang paling utama caranya adalah kenali kembali customer kita. Perubahan perilaku customer dapat dipastikan telah terjadi selama pandemi ini.

Untuk itu, kita perlu mencari tahu dan memahami customer kita saat ini. Dengan begitu, kita bisa menerapkan strategi bisnis berdasarkan cerminan kebutuhan customer dan konteks sosialnya saat ini.