Industri Periklanan Harus Beri Kontribusi Positif

Industri Periklanan Harus Beri Kontribusi Positif

Industri Periklanan Harus Beri Kontribusi Positif

Industri Periklanan Harus Beri Kontribusi Positif, – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat ada tiga sektor yang berkontribusi besar untuk penerimaan pajak pada 2017. Sektor itu industri pengolahan, perdagangan, dan jasa keuangan.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan, kontribusi industri pengolahan terhadap pajak tahun lalu 31,8 persen. Kemudian sektor perdagangan dengan kontribusi terhadap pajak 19,3 persen. Diikuti sektor jasa keuangan yang beri kontribusi 14 persen.

Pandemik mengharuskan banyak perusahaan dari berbagai sektor untuk mengelola pengeluaran mereka seefektif mungkin. Segala upaya dilakukan, termasuk memangkas biaya promosi dalam rangka menjaga “kesehatan” arus kas. Padahal di sisi lain, perubahan anggaran iklan perusahaan-perusahaan dapat berdampak pada keberlangsungan industri periklanan.

Sylvia Sudradjat, Head of Business Development IDN Media, tak memungkiri adanya tantangan yang kini dihadapi industri periklanan. Namun menurutnya, tetap banyak kesempatan kolaborasi yang dapat dieksplorasi, baik oleh penyedia jasa iklan maupun oleh pengiklan.

Iklan digital, misalnya, yang meskipun bukan tren baru, masih dapat terus dioptimalkan seiring dengan meningkatnya angka adopsi digital. Terlebih lagi, industri periklanan juga diharapkan dapat tetap memberi kontribusi positif bagi masyarakat selama melalui masa pandemik ini.

Ia mengatakan, penerimaan pajak dari sektor pertambangan mengalami pertumbuhan tertinggi sepanjang 2017. Dia mencatat, meskipun sektor tersebut pertumbuhan pajaknya minus pada 2016, namun tahun lalu mampu meningkat 39,3 persen.

Perubahan pola konsumsi yang berdampak pada bidang periklanan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebijakan pemerintah untuk menekan angka penularan COVID-19 turut memaksa kita untuk tetap tinggal di dalam rumah. Hal ini tentu saja memicu terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Generasi X dan Z sebagai generasi yang mendominasi demografi penduduk Indonesia saat ini, misalnya, terbukti masuk ke dalam kategori heavy internet consumers selama pandemik COVID-19.

Sylvia mengatakan, “Pandemik ini membawa perubahan yang signifikan, terutama dalam bidang advertising. Banyak pengiklan yang mulai mempertimbangkan beberapa hal fundamental terkait pergeseran strategi pemasaran mereka. Agar dapat tetap menjangkau audiens mereka, pergeseran tersebut, tentu saja, dilakukan ke arah yang lebih digital. Content creator marketing, misal, digital content marketing, atau online live streaming.”

Tetap berkreasi di tengah hantaman pandemik

Bagi Sylvia, tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri periklanan adalah ketidakpastian alokasi anggaran dari suatu brand. Fenomena yang terjadi pada tahun ini bisa dibilang unik, di mana data statistik tentang spending habit tidak lagi relevan diaplikasikan. Artinya, bila biasanya perusahaan memiliki anggaran tahunan untuk promosi, pada tahun ini, pengalokasian anggaran tersebut harus dilaksanakan secara fleksibel, menyesuaikan situasi terkini.

Nyatanya, banyak brands yang memangkas biaya promosi mereka guna bertahan di tengah hantaman pandemik. “Pergeseran prioritas inilah yang menjadi tantangan nyata bagi industri periklanan untuk tetap bertahan sembari menciptakan berbagai macam kreasi campaign yang tepat guna. Pada intinya, hal ini dilakukan dalam rangka menjawab kebutuhan para pengiklan,” ucap Sylvia.