Ekskavator Made in Bandung

Ekskavator Made in Bandung

Ekskavator Made in Bandung

Ekskavator Made in Bandung – PT Pindad (Persero) resmi meluncurkan produk ekskavator teranyarnya di Pameran IndoBuildTech Expo di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten. Produk alat berat ini diluncurkan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Ekskavator kali ini diberi nama Escava 50 dengan cat merah putih seperti saudaranya Escava 200. Perbedaan dua alat berat yang sering disebut mobil sungkur ini salah satunya dari besarannya.

“Bedanya kalau kakaknya (Escava 200) itu lebih besar, kalau Escava 50 lebih kecil,” kata Herdiana salah satu Staf Purna Jual Divisi Bisnis Industrial, Jakarta. Ekskavator rilisan baru punya PT Pindad (persero) sudah banyak yang meminati. Bahkan, minat tersebut datang dari Vietnam dan Myanmar.

Vice President Bisnis Industrial Pindad Wiweko Hernadi mengatakan ekspor ke Vietnam dan Myanmar masih dalam proses penjajakan. “Sebenarnya ada permintaan dari Vietnam dan Myanmar. Iya (penjajakan), yang sudah secara resmi minta (Vietnam dan Myanmar) dari mereka,” kata Wiweko, Jakarta.

Meski berbadan kecil, Herdiana menjelaskan, Pindad Escava 50 ini memiliki tenaga lebih besar dibandingkan dengan excavator para pesaingnya. “Dia lebih lincah, lebih fleksibel, bisa digunakan di area sempit, tenaganya juga lebih besar,” ujar dia.

Escava 50 masuk produksi secara massal pada April tahun ini. Menurut dia, excavator yang dibanderol sekitar Rp 600 juta ini sudah banyak yang memesannya. Hanya saja, dirinya masih enggan membocorkan siapa saja yang memesan. Alasannya, karena tahap produksi belum dilaksanakan.

Jika sudah diproduksi massal, Escava 50 bisa dimanfaatkan oleh para kementerian teknis yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur. Seperti Kementerian PUPR dan Kementerian Pertanian. “Tapi ada juga swasta yang membelinya, seperti untuk tambang batu, pasir, batubara,” ujar dia.

Dia mengungkapkan, pemasaran mobil sungkur yang dinamakan Pindad Escava 50 ini masih diutamakan untuk dalam negeri. Pasalnya, pasar nasional pun masih membutuhkan banyak.

Pindad Escava 50, kata Wiweko, baru mulai produksi masal pada April tahun ini. Sudah ada permintaan yang berasal dari Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kemudian di swasta juga banyak, mulai dari BUMN karya, sampai swasta untuk sawit dan lain-lain. Lebih banyak untuk konstruksi,” ujar dia.