Pemerintah Gerakkan BUMN Serap Hasil Tangkapan Ikan Nelayan dan Pembudidaya

Pemerintah Gerakkan BUMN Serap Hasil Tangkapan Ikan Nelayan dan Pembudidaya

BUMN Serap Hasil Tangkapan Ikan Nelayan

BUMN Serap Hasil Tangkapan Ikan Nelayan – Kementerian Koordinatro Bidang Kemaritiman dan Ivestasi menggandeng sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan untuk menyerap sejumlah ikan hasil tangkapan dari nelayan dan budidaya di tengah pandemi COVID-19. Dua BUMN tersebut, yakni PT Perikanan Nusantara (Perinus) dan Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perindo).

Baca juga : Tidak Ingin Aset Properti, Elon Mausk Jual Rumah Senilai Rp932 Miliar

Deputi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin menyatakan, kerjasama diharapkan membawa kontribusi positif bagi perekonomian nelayan. Sebab, mereka tengah dihadapkan pada kondisi sulit menyusul rendahnya tingkat serapan hasil panen ikan.

“Pandemi membuat proses distribusi terganggu. Akibatnya stok ikan melimpah sedangkan permintaan turun maka harga menurun,” ujar dia saat menggelar video conference di kanal Zoom, Minggu (31/5).

Dia menjelaskan, peran BUMN perikanan akan difokuskan pada penyerapan ikan dalam negeri. Selain itu, BUMN juga diharapkan dapat memfasilitasi pengadaan cold storage untuk menjaga kesegaran tangkapan nelayan sehingga harga jualnya tetap kompetitif.

“Kita jamin produk teman-teman perikanan budidaya dan nelayan terjaga. Kalau pasar domestik belum cukup akan masuk ke BUMN. ini bagian membantu,” tegas dia.

Menurutnya, berkurangnya permintaan akan komoditi ikan diakibatkan oleh terganggunya ekonomi konsumen setelah berbagai operasional bisnis terganggu. Misalnya bisnis restoran yang merugi hingga tutupnya bisnis penginapan atau hotel.

Beruntung, sejak tiga pekan terakhir Pemerintah kembali membuka ekspor ikan ke sejumlah negara mitra dagang. Ekspor akan terus dilakukan untuk mengurangi kelebihan stok nasional dan meningkatkan pendapatan negara di tengah pandemi yang kian meluas.

Hasil Tangkapan Nelayan Turun 50 Persen

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mencatat, harga produk perikanan anjlok hingga 50 persen di sejumlah pelabuhan perikanan nasional akibat terdampak virus corona.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanuddin mengatakan, karena harga ikan yang anjlok, maka pendapatan nelayan yang bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta sekali melaut, juga anjlok menjadi hanya Rp1 juta hingga Rp1,5 juta saja.

“Ini masalah besar bagi nelayan karena harganya anjlok sampai 50 persen,” kata Safri dalam webinar tentang ekonomi biru di Jakarta, dikutip Antara, Kamis (28/5).

Dia menjelaskan, harga ikan yang turun itu disebabkan karena kebijakan PSBB yang berdampak langsung ke usaha restoran. Padahal sektor tersebut menjadi salah satu tujuan pasokan perikanan. Dengan kondisi tersebut, produksi perikanan pun mau tidak mau mengalami penurunan, khususnya dari periode Maret ke Juni 2020.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, terjadi tren penurunan hasil perikanan tangkap pada Maret hingga Juni 2020 sebesar 8,10 persen. Hal itu, justru berbanding terbalik dengan kondisi di periode yang sama pada 2018 dan 2019 yang meningkat.

Demikian pula harga produk perikanan tangkap mengalami penurunan 8 persen dari Rp1,35 triliun pada Maret 2020 menjadi Rp1,25 triliun pada Juni 2020.

Safri menuturkan, dari sisi ekspor, pandemi juga menyebabkan penurunan ekspor termasuk untuk komoditas kepiting, udang dan lobster. Pasalnya, masalah terbatasnya transportasi hingga matinya sektor pariwisata membuat ekspor terhambat dan tidak terserap.

“Maka kami juga berupaya untuk melakukan penyeimbangan dengan meningkatkan kebutuhan atau serapan dalam negeri,” katanya.

Sumber :merdeka.com