Bisnis Daster Sama Sarung Saat Pandemi

Bisnis Daster Sama Sarung Saat Pandemi

Bisnis Daster Sama Sarung Saat Pandemi

Bisnis Daster Sama Sarung Saat Pandemi – Dari gadis remaja sampai nenek-nenek pasti tahu dengan fashion item satu ini. Bukan hanya kenal lho, hubungan daster dan kalangan wanita itu ibarat sayur dan garam. Hampa kalau terpisah.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), daster didefinisikan sebagai kata kerja dengan arti gaun yang sengaja dibuat longgar untuk dipakai di rumah. Kalian para pria seringnya memandang sebelah mata dengan fashion item satu ini. Padahal bagi seorang wanita pada umumnya, daster itu adalah jenis baju paling nyaman untuk digunakan sehari-hari. Pokoknya daster adalah must have fashion item!

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu kelompok usaha yang paling terpukul akibat pandemi Corona (COVID-19). Meski begitu, ada beberapa bisnis UMKM yang dinilai masih tumbuh dan bisa bertahan.
Menteri Koperasi & UKM, Teten Masduki mengatakan bisnis yang permintaannya banyak saat ini adalah daster dan sarung. Hal itu disebabkan karena saat ini orang lebih banyak di rumah, sehingga membutuhkan pakaian yang santai.

“Ada pengusaha batik, pengrajin batik yang merubah dari jualan batik fashion ke pakaian daster, wah lakunya bukan main karena orang sering di rumah. Jadi jualan daster sama sarung sekarang lebih laku daripada jualan batik,” kata Teten dalam webinar, Rabu.

Sedangkan UMKM fashion batik dinilai tak diminati pembeli. Sebab di tengah pandemi ini tidak banyak orang menghadiri pesta pernikahan.

“Yang fashion itu, orang itu nggak ada pesta jadi nggak beli baju. Saya ketemu pengrajin batik mengeluh semua nggak ada yang beli,” ungkapnya.

Selain itu, bisnis makanan dan minuman juga masih jadi sektor yang paling tumbuh saat ini. Disusul alat kesehatan, hingga alat olahraga.

“Kita tahu di tengah ekonomi yang sulit dan penerapan social distancing yang meluas sekarang orang konsumsi lebih banyak untuk urusan makan dan minum, kebutuhan pokok, kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kesehatan, pemeliharaan atau kebutuhan rumah dan sebagainya. Jadi kalau dilihat angkanya memang saya kira yang growing itu kebutuhan makanan, minuman, belanja bahan pokok, alat olahraga, kesehatan dan sebagainya,” urainya.

Untuk itu, pelaku UMKM diharapkan dapat melakukan adaptasi bisnis dan melakukan inovasi produk agar bisa bertahan dari dampak Corona. Mereka diharapkan bisa melakukan adaptasi produk sesuai permintaan pasar yang dibutuhkan saat ini.